
Jakarta, trakyakosebent Indonesia
—
Musim kemarau 2026
di Indonesia mulai meluas, menandakan cuaca bakal semakin panas dan kering di sejumlah daerah. Hasil analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (
BMKG
) pada Dasarian III Juni 2026 menunjukkan bahwa sebanyak 37,6 persen wilayah Indonesia atau sekitar 263 Zona Musim (ZOM) sudah memasuki musim kemarau.
Pada bulan Juli 2026, BMKG memprediksi sejumlah wilayah bahkan akan memasuki puncak musim kemarau. Setidaknya, ada 12,26 persen wilayah atau 83 ZOM yang diprakirakan oleh BMKG bakal masuk puncak musim kemarau bulan ini.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani memaparkan puncak kemarau di Tanah Air berlangsung dalam tiga fase, yakni Juli, Agustus, dan September 2026.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut daftar wilayah Indonesia masuk puncak musim kemarau Juli 2026:
Sebagian Sumatra
Sebagian kecil Kalimantan
Sebagian kecil Jawa
Nusa Tenggara Timur bagian selatan
Sulawesi Barat bagian utara
Sulawesi Tengah bagian barat
Sebagian kecil Maluku
Papua Barat Daya bagian selatan
Papua Barat bagian Tengah
Papua bagian Timur
Kemarau lebih panjang
Faisal mengatakan bahwa musim kemarau tahun ini diprediksi bakal lebih panjang dari biasanya.
“Durasi musim kemarau di 57,2 persen wilayah Indonesia diprediksi lebih panjang dari normalnya,” kata Faisal pada Maret lalu.
Kemarau tahun ini diperkirakan juga bakal lebih kering. Kondisi ini juga memerlukan penyesuaian ekstra mengingat peluang El Nino tahun ini.
El Nino diprediksi akan terus bertahan hingga awal tahun 2027 dengan peluang intensitas mencapai kategori moderat sebesar 98 persen dan kategori kuat 62 persen. Fenomena ini berpotensi menyebabkan penurunan curah hujan di sejumlah wilayah, terutama bagian selatan garis khatulistiwa selama puncak musim kemarau.
Faisal menjelaskan bahwa El Nino diperkirakan berlangsung selama 9 hingga 12 bulan. Namun, itu bukan berarti Indonesia akan mengalami kemarau sepanjang periode itu.
“Yang perlu kita waspadai bukan lamanya El Nino, tetapi ketika fenomena ini bertepatan dengan musim kemarau. Pada periode itulah curah hujan menjadi lebih sedikit dibandingkan kondisi normal, sehingga berbagai sektor perlu meningkatkan kesiapsiagaan,” kata dia dalam keterangan resminya.
Wilayah mana paling terdampak?
Faisal mengungkap deretan wilayah yang berpotensi paling terdampak fenomena El Nino di tengah musim kemarau. Wilayah-wilayah itu yakni Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sumatra bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi, hingga Papua bagian selatan.
Pada periode Juli hingga Oktober 2026, curah hujan di daerah-daerah tersebut diperkirakan berada di bawah normal dibanding rata-rata klimatologis.
Menurutnya, selain berdampak pada sektor pertanian dan ketersediaan air, fenomena ini juga berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, penurunan kualitas udara, serta gangguan kesehatan masyarakat seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan penyakit akibat paparan suhu panas.
Di sektor pangan dan pertanian, BMKG mengingatkan risiko gangguan fase pertumbuhan tanaman, penurunan produktivitas, hingga peningkatan potensi puso akibat defisit air.
(dmi)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video trakyakosebent]
Baca lagi: Lepas Misbud 2026, Menbud Tegaskan Peran Generasi Muda dalam Budaya RI
Baca lagi: Spesifikasi Hyundai Ioniq 3 yang Bakal Muncul di GIIAS 2026
Baca lagi: Teater Musikal Senja Teduh Pelita Mulai Digelar 3 – 12 Juli

11 Responses
Tulisannya runtut dan logis, enak dibacanya. Sebagai tambahan informasi aja nih, web https://kldp.org/comment/259015 juga ngebahas topik ini dari sisi yang berbeda.
Gak nyangka bakal bahas sedetail ini, salut buat penulisnya! Oh iya, kemarin-kemarin saya juga nemu info yang pas banget ngebahas ginian di https://www.newswire.co.kr/newsRead.php?no=95296&picno=34771.
Terima kasih sudah membagikan artikel yang informatif seperti ini. Buat yang ingin melihat sudut pandang lain, saya juga menemukan https://www.newswire.co.kr/newsRead.php?no=297828 yang cukup menarik.
Penulisan artikelnya sangat runut sehingga mudah dipahami. Saya juga ingin berbagi tautan https://kldp.org/comment/137709 di sana ada tulisan serupa yang bisa dijadikan rujukan tambahan.
Menarik banget pembahasannya, sukses nambah wawasan saya hari ini. Tadi pas browsing saya juga dapet info komprehensif yang mirip-mirip di https://dl.nanet.go.kr/detail/NONB1200926524, lumayan buat pelengkap.
Pembahasan yang sangat relevan sama kondisi sekarang. Kalau mau cari perbandingan artikel, di https://www.newswire.co.kr/newsRead.php?no=285441 juga ada ulasan yang komprehensif banget.
Keren ulasannya, daging semua! Pas banget nih, barusan gw juga baca materi yang sepemahaman di http://nchu-smart-campus.nchu.edu.tw/2017/10/blog-post_26.html lumayan buat bahan bacaan ekstra.
Ulasan yang sangat mencerahkan dan to the point. Buat yang mau memperdalam materi ini, silakan cek juga https://absurdy.panoptykon.org/comment/84543 ya.
Penjelasannya terstruktur rapi dan alur pembahasannya gampang banget dipahami buat orang awam. Mantap abis min! Bagi yang butuh referensi bacaan tambahan, silakan kunjungi https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297287121_htm
Penjelasan yang sangat menarik dan memberikan perspektif baru buat saya. Terima kasih banyak admin! Kebetulan saya juga nemu info serupa yang dibahas mendalam di https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320427654_htm sebagai referensi tambahan.
Terima kasih banyak atas ilmunya admin, penjelasannya bener-bener daging semua. Oh ya, sekadar berbagi sumber referensi lain yang relevan, tautan https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320143244_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297325919_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297438237_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320013026_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320372806_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320659938_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297172361_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297350872_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297526917_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320096702_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297183962_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320102729_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297544126_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320534534_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320286686_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320081124_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320221466_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297290544_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320606165_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320658453_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297236208_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320252984_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320546135_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297454039_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320261725_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297210298_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320637579_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320175743_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F296926845_htm ini layak dikunjungi.